Saya baca dan shari dari kompasiana.com.
Pendapat saya betul, lebih baik menanam sebatang pohon daripada menyimpan penghargaan bergengsi didalam lemari. "MARI LESTARIKAN DANAU TOBA"
Danau Toba seperti Bidadari yang semakin tua dan
tidak bisa merawat diri sendiri, dimulai suhu yang semakin panas akibat
hutan yang makin menipis, bau menyengat akibatnya peternakan Babi dari
perusahaan besar yang kabarnya limbahnya dibuang ke Danau Toba dan juga
bau dari keramba apung yang menyebar di beberapa tempat kawasan Danau
Toba.
Kalau sampai warga asal tidak terusik tak tahulah lagi kita mau bilang apa.
Tetapi setidaknya ada 3 anak bangsa yang tak
mau berhenti berjuang dan tak habis akal, memikirkan cara untuk membuka
hati para pemangku jabatan untuk turun dan memperhatikan dan mengambil
tindakan dan kebijakan untuk menyelamatkan Danau Toba, ya 3 Anak Bangsa
Pahlawan Lingkungan yang berhasil menggondol penghargaan atas andilnya
memperjuangkan lingkungan akan selalu gerah melihat sikap Pemerintah ini
yang terkesan melakukan pembiaran.
Mereka yang sudah melakukan banyak cara agar pemerintah memperhatikan lingkungan tidak habis akal, mereka adalah:
- Marandus Sirait yang dianggap Gila orang di sekitarnya karena memikirkan proyek untuk jangka waktu 20 tahun kedepan yang menghijaukan dan mengindahkan tanah ulayat keluarga seluas 40 hektar, termasuk bagaimana gilanya dia sampai menjual barang-barang seperti: lemari, kulkas sampai alat masak untuk membangun obsesi-nya yang diberi nama: Taman Eden 100 di tanah leluhurnya yang sudah menghabiskan puluhan juta dari dia dengan keadaan ekonomi yang pas pasan. Tahun 1999 – 2002 dia mulai membangun dan mulai meraih pelancong di Tahun 2003 . Dia berbuat untuk suatu bakti untuk tanah kelahirannya yang mengantarkannya menggondol Danau Toba Award dari Gubernur Sumatra Utara, Piala Wanalestari dari Menteri Kehutanan dan akhirnya Piala Kalpataru yang bergengsi pun diterima dari Presiden SBY untuk kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2005.
- Wilmar Eliaser Simandjorang, mantan Pejabat Bupati Samosir yang adalah penerima penghargaan Danau Toba Award diterimanya pada tahun 2011 dari Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam kapasitasnya sebagai Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba dan dan Piala Wanalestari dari Menteri Lingkungan Hidup Zulkifli Hasan pada tahun 2011. Yang tentu berbeda dengan Bupati Saat ini yang ikut andil dalam penebangan kayu di Samosir.
- Hasoloan Manik yang juga Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Pilihi) meraih Kalpataru dalam kategori penyelamat lingkungan pada tahun 2010.
| Selamatkan Danau Toba /save Lake Toba |
PROTES: Tiga penggiat lingkungan Sumatera
Utara Marandus Sirait (kiri), Hasoloan Manik (tengah) dan Wilmar E
Simanjorang (kanan), saat melakukan protes dan akan mengembalikan
berbagai penghargaan yang pernah mereka raih karena rusaknya ekosistem
region kawasan Danau Toba di Taman Beringin Medan, Jumat (2/8
Analisadaily.com)
Ketiga Pejuang Lingkungan asal SUMUT ini tidak sudi terbuai dan terninabobokan dengan Penghargaan yang mereka terima.
Tamparan Keras pada Gubernur Sumatera Utara
Gatot Pujo Nugroho dengan pengembalian Danau Toba Award 2 Agustus 2013
lalu seperti belum mampu membuatnya bergeming atau memang diluar
kemampuan sang Gubernur-kah permasalahan ini?
Nah para Pahlawan Lingkungan kita ini tidak
kehabisan akal, tentu kita tunggu sekeras apa efek “tamparan” yang akan
dirasakan Menteri Kehutanan dan Presiden SBY pada 3 September 2013 jika
Piala Wanalestari dan Kalpataru di kembalikan di Lapangan Monas, semoga
“tamparan” ini benar-benar bisa membuka mata dan pikiran beliau dan
semua yang pejabat yang berwenanag akan lingkungan hidup dan
kelestariannya.
Semoga, semoga Presiden SBY dan Menteri
Kehutanan kita masih tahu malu punya etika. Kalau tidak mari kita
permalukan dengan mengekspos berita ini besar-besaran.
Selamat berjuang Saudara-saudaraku, Doa dan semangat kami menyertai kalian semua.
DAN SAUDARA-SAUDARA SEBANGSA DAN SETANAH AIR
DUKUNGLAH DENGAN IKUT SERTA AKSI PENGEMBALIAN PIALA WANALESTASRI DAN
KALPATARU DI LAPANGAN MONAS TANGGAL 3 SEPTEMBER 2013 INI YANG AKAN
DISERTAI ATRAKSI BUDAYA DARI TAPANULI.
BAGIKAN TULISAN INI SEBANYAK-BANYAKNYA SUDAH SANGAT BERARTI UNTUK PERJUANGAN KITA DAN TERIMAKASIH UNTUK KEPEDEULIANNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar